Article
Mengingat Kembali Perjanjian Primordial Manusia dengan Tuhan

Mengingat Kembali Perjanjian Primordial Manusia dengan Tuhan

Muharram merupakan salah satu bulan yang istimewa bagi umat Islam. Hal ini dikarenakan banyak peristiwa berkaitan dengan para nabi maupun orang-orang saleh dalam sejarah yang mengandung pelajaran penting bagi setiap muslim secara khusus, dan semua umat manusia secara umum.

Penerimaan taubat Nabi Adam oleh Allah, disembuhkannya penyakit Nabi Ayyub, diselamatkannya Nabi Yunus dari perut ikan, anugerah kekuasaan dan kerajaan kepada Nabi Sulaiman, penyelamatan Allah atas Nabi Nuh dari banjir air bah, ditenggelamkannya  Fira’aun sekaligus penyelamatan Nabi Musa, hingga syahidnya Husain (putra Ali bin Abi Thalib) adalah beberapa contoh kejadian besar nan penting di bulan ini.

Di sisi lain, bulan yang juga disebut sebagai bulan Asyura ini menjadi saat yang dinanti oleh banyak orang untuk memulai proses pembersihan diri (takhalli), khususnya di sepuluh hari pertama bulan Muharram. Bahkan, tokoh-tokoh besar sekalipun rela meninggalkan kesibukan duniawinya untuk berbenah dan memperbaiki diri di bulan mulia ini.

Fitrah manusia yang terlahir dengan badan dan nafsu yang suci pada perjalanan hidupnya kemudian meniscayakan seseorang untuk bertaubat atas dosa-dosa dan kemaksiatan yang pernah mereka perbuat. Berbicara soal dosa, Allah sendiri menegaskan bahwa Dia dengan murah hati akan mengampuni semua dosa hambanya yang meminta ampun, menyesali, dan tidak akan mengulangi dosa tersebut.

Akan tetapi, terdapat satu dosa berupa syirik yang dalam beberapa firman-Nya Allah seakan enggan untuk memaafkannya, sebagaimana tersirat di QS. An-Nisa’ ayat 48. Meskipun pada akhirnya rahmat-Nya akan mengalahkan murka-Nya, tentu ada alasan yang mendasari kenapa Allah sempat memberikan ultimatum kepada mereka yang menyekutukan Dia.

Jika ditarik garis mundur ke belakang, ternyata ada satu momen di mana setiap manusia sebelum kemudian lahir ke dunia melakukan dialog dua arah ihwal kesepakatan soal ketuhanan. Kejadian itu menurut Imam Junaid Al-Baghdadi terjadi di alam mitsaq, satu alam tempat seseorang melakukan perjanjian primordial yang berisikan kesaksian dan pengakuan Allah sebagai Tuhan seluruh umat manusia.

Kejadian ini sendiri diabadikan dalam QS. Al-A’raf ayat 172. Pada ayat itu, disebutkan bahwa manusia telah menerima dan mengakui Allah sebagai Tuhan, dan bahkan mereka bersaksi atas hal itu. Sayangnya, perjanjian paling awal ini sering diabaikan serta dilupakan oleh setiap insan yang tumbuh dan berkembang di dunia.

Perjalanan hidup seseorang yang kemudian menemukan kenikmatan-kenikmatan dalam rupa harta, kekuasaan, dan segala berhala modern itulah yang seringkali membuat kita lupa akan Zat yang Menciptakan Langit Bumi beserta segala isinya, tak terkecuali manusia. Atas dasar itulah, kemudian muncul ‘tuhan-tuhan’ baru yang hakikatnya tidak abadi.

Tak heran kemudian Allah mewanti-wanti betapa perbuatan menuhankan benda-benda atau apa pun selain Dia (disebut syirik dalam Islam) merupakan salah satu dosa yang hampir-hampir tidak bisa diampuni jika tidak ada kesungguhan dari manusia untuk bertaubat, ditambah kemurahan dan kasih sayang-Nya tentunya.

Momen Asyura ini sepertinya bisa menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan dan mengingat kemballi komitmen agung dan perjanjian primordial yang pernah dilakukan manusia dengan Tuhannya. Kesadaran akan peristiwa itulah yang akan mendorong timbulnya kecerdasan spiritual, sehingga pada aspek praksisnya manusia akan selalu melibatkan Tuhan dalam setiap gerak-gerik dan laku kehidupannya. Hingga apa yang pernah diucapkan Nabi Muhammad SAW itu bisa kita hayati bersama. In lam yakun bika ‘alayya ghadlabun fala ubali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *