Article
Tasawuf dan Psikologi dalam Pengembangan Diri: Sebuah Studi Komparatif

Tasawuf dan Psikologi dalam Pengembangan Diri: Sebuah Studi Komparatif

Perbincangan mengenai psikologi dan tasawuf beberapa tahun belakangan semakin ramai dibahas. Tentu banyak faktor yang melatarbelakanginya. Kebutuhan manusia untuk meningkatkan kualitas diri dan meraih ketenangan serta kebahagiaan merupakan dua di antara banyak faktor yang melatarbelakanginya. Bukan tanpa alasan, ketenangan memang menjadi kunci penting untuk meraih kesuksesan.

Pada tanggal 24 Februari 2021, Gets Indonesia berkolaborasi dengan Pengurus Wilayah Mahasiswa Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (PW MATAN) DKI Jakarta mengadakan webinar yang dikemas dengan konsep santai, namun tak kehilangan esensi kedalaman materi yang dibahas.

Bertajuk Ngopi Online (Ngilen), topik pembicaraan yang dipilih ialah “Similaritas Psikologi dan Tasawuf dalam Pengembangan Diri”. Coach Indra Hanjaya selaku founder Gets Indonesia bertindak sebagai pemateri, sedangkan M. Aqil Syahrian sebagai perwakilan PW MATAN DKI Jakarta mendampingi sebagai moderator yang memandu jalannya acara.

Keluasan wawasan ditambah pengalaman sebagai Spiritual Life Coach membuat penyampaian materi oleh Coach Jaya begitu menarik serta bisa dipahami oleh peserta webinar.  “Similaritas psikologi dan tasawuf bisa ditemukan dalam psikologi transpersonal,” ungkap Coach Jaya.

Psikologi transpersonal sendiri merupakan salah satu aliran dalam dunia psikologi yang mengintegrasikan aspek spiritual ke dalam disiplin keilmuannya. Artinya, psikologi tidak hanya menyentuh aspek pikiran dan perilaku saja, tetapi juga bergerak lebih jauh hingga aspek spiritual yang menyentuh jiwa, hati, dan rasa.

Menurut beliau, psikologi semacam ini sejatinya telah tumbuh dan berkembang di daerah Timur (termasuk Indonesia) sejak dua ribu tahun yang lalu. Hanya saja, hal itu memang tidak banyak diperhatikan dan disorot sebagaimana psikologi transpersonal beberapa dekade terakhir.

Sementara itu, tasawuf yang berkutat pada tazkiyah al-nufus dan tashfiyah al-qulub merupakan proses pembentukan karakter yang melalui tahapan-tahapan dalam jangka waktu tertentu. Misalnya terdapat trilogi Takhalli, Tahalli, dan Tajalli yang menjadi doktrin umum dalam dunia tasawuf.

Ketiga fase tersebut tidak lain bertujuan untuk menuju insan paripurna, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Tak hanya itu, tasawuf di era modern juga bisa diaplikasikan dalam penanggulangan terorisme dan radikalisme; pencegahan korupsi; hingga rehabilitasi pengguna narkoba.

Gets Indonesia sendiri dalam hal pemberdayaan diri mengembangkan sebuah metode bernama Panca Olah, yakni sinergi antara Olah Pikir, Olah Hati, Olah Rasa, Olah Raga, dan Olah Karsa. Dengan kelima aspek tersebut, seseorang akan mampu mengetahui potensi dirinya, lalu kemudian mengaktualisasikannya dalam kehidupan nyata.

Lebih lanjut, tujuan lebih jauh dari penerapan Panca Olah ialah terciptanya revolusi spiritual dalam diri manusia. Revolusi spiritual merupakan sebuah peningkatan dan perluasan kesadaran yang berdampak pada perubahan pemikiran dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

Di antaranya ialah adanya rasa kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup di muka bumi, baik itu sesama manusia, tetumbuhan, hewan, dan lain sebagainya. Dengan hal itu, maka terciptalah harmoni dalam struktur alam semesta secara keseluruhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *