Article
Ikhtiar Membumikan Batik ala Lek Iwon: Dari Raja Belanda hingga Ibu Rumah Tangga

Ikhtiar Membumikan Batik ala Lek Iwon: Dari Raja Belanda hingga Ibu Rumah Tangga

Sebagai sebuah bangsa, Indonesia memiliki warisan yang begitu kaya. Bukan semata sumber daya alamnya saja, melainkan juga khazanah kebudayaan yang dikandungnya.

Ratusan suku bangsa serta bahasa menjadi bukti bahwa bangsa ini dari awalnya memang sudah multikultural, bukan univokal.

Di antara berbagai warisan budaya yang ada, batik merupakan salah satu garda terdepan dalam acara-acara penting yang diselenggarakan oleh pemerintah, mulai dari lingkup negara, provinsi, kota atau kabupaten, kecamatan, hingga desa-desa kecil yang menyusun republik ini.

Lebih jauh, batik juga telah menjelma sebagai alat diplomasi yang diandalkan di berbagai belahan dunia. Tak heran jika kemudian Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mendorong berbagai kedutaan besar di luar negeri yang mewakili Indonesia untuk menyediakan anggaran khusus pembelian batik lokal, untuk kemudian diperkenalkan kepada khalayak internasional pada momen-momen penting kegiatan internasional.

Pengukuhan Batik sebagai Warisan Budaya Dunia Asal Indonesia

Kebanggaan akan batik selaku produk budaya khas Indonesia sendiri semakin meningkat semenjak dikukuhkannya batik sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia pada tanggal 2 Oktober 2009 silam.

Peristiwa di hari itulah yang menjadi tonggak sejarah, di mana keterikatan antara batik dan Indonesia terus menguat dari waktu ke waktu. Pun demikian, sejak tahun itu pula diplomasi batik di luar negeri semakin digencarkan dari tahun ke tahun.

Meskipun demikian, perlu diingat bahwa di balik sebuah pencapaian besar pastilah terdapat orang-orang yang gigih dalam berjuang dan berusaha demi tercapainya tujuan bersama yang telah disepakati.

Proses pencalonan batik sebagai warisan budaya dunia khas Indonesia sendiri sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2004. Sejak tahun itulah batik dinobatkan sebagai busana resmi di lingkungan kerja Kementerian Luar Negeri.

Merujuk pada arsip berjudul Dasawarsa Diplomasi Batik Indonesia: Rekam Jejak Peran Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia 2008-2019, penulis mendapatkan data bagaimana perjuangan mengenalkan batik sekaligus membawanya ke jenjang internasional dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri.

Mulai dari melobi komite kebudayaan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) yang mengurusi warisan tak benda dunia hingga melakukan tur dunia untuk melakukan pameran batik di berbagi negara, seperti Portugal, Filipina, Selandia Baru, Rumania, Papua Nugini, Prancis, Jepang, Ukraina, Uzbekistan Yordania, Amerika Serikat, Australia, Rusia, Yunani, hingga Nigeria.

Puncak dari perjuangan itu kemudian membuahkan hasil pada pengesahan batik sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi.

Salah satu tokoh yang bisa disebut berperan cukup besar dalam mengawal perjalanan tersebut ialah Iwan Setiawan, seorang maestro batik tulis dari Yogyakarta, atau lebih akrab disapa dengan Lek Iwon.

Bermukim di Kampung Taman Sari, sehari-hari beliau banyak menghabiskan waktunya untuk membatik di galeri pribadi yang dibuat di rumahnya sendiri, tak jauh dari tempat wisata Taman Sari yang terkenal di Yogyakarta.

Universalitas Batik Tulis: Dari Raja Belanda hingga Ibu Rumah Tangga

Ketika tim Gets Indonesia berkunjung ke Galeri Batik Elok milik Lek Iwon, beliau dengan ramah dan terbuka membagikan kisahnya dalam membumikan batik di Nusantara.

Menurutnya, setiap warga negara sudah seharusnya mencintai batik sebagai warisan kebudayaan khas bangsa ini. Oleh karena itu, diperlukan edukasi mengenai proses pembuatan batik dari hulu hingga ke hilirnya.

lek iwon dan indra hanjaya

Pria yang juga merupakan Ketua Paguyuban Batik se-Taman Sari dan anggota Paguyuban Batik di Daerah Istimewa Yogyakarta ini memiliki peran besar dalam membumikan batik dengan jalan mendidik berbagai kalangan, mulai dari siswa sekolah hingga ibu rumah tangga.

“Terus terang, saya bersemangat jika mendapat tugas mengajar proses membatik kepada anak-anak usia sekolahan dan ibu-ibu rumah tangga, ungkap Lek Iwon.”

Menurutnya, banyak siswa sekolahan selama ini kurang mencintai batik karena mereka terlalu dipusingkan dengan metode pengajaran batik yang kaku dan tidak menarik.

Alhasil, setiap ada kelas seni membatik mereka justru merasa takut dan ingin pelajaran hari itu segera selesai dalam waktu yang cepat.

Berbeda halnya dengan cara konvensional tersebut, di tangan Lek Iwon proses belajar membatik tulis tidak dibuat menegangkan dan menakutkan. Justru perasaan gembira dan menyenangkan yang dimunculkan dari awal hingga akhir pembelajaran.

Pada awal proses belajar, beliau membebaskan setiap orang yang ingin belajar membatik tulis padanya untuk membuat motif apa pun dan bagaimana pun sesuka mereka.

Anak-anak kecil berkreasi dengan gambar-gambar fiktif maupun nyata yang menjadi figur kesukaan mereka. Demikian pula kalangan ibu rumah tangga, karyawan profesional, mahasiswa, hingga yang paling fenomenal ialah Raja dan Ratu Belanda.

Beberapa waktu sebelum pandemi menyerang Indonesia, galeri batiknya memang sempat dikunjungi oleh Raja dan Ratu Belanda sebagai bagian dari kunjungan mereka ke Indonesia.

Di sana, dua tokoh kerajaan beserta para rombongannya belajar membatik tulis secara langsung bersama Lek Iwon. Tak lupa, mereka juga memesan batik dengan model khusus sebagai oleh-oleh ketika pulang ke Belanda.

Spirit membumikan batik yang ada dalam diri Lek Iwon pun mengantarkan banyak muridnya menjadi praktisi batik nasional maupun internasional seperti dirinya. Bahkan, ia pernah mendidik seorang berkebutuhan khusus hingga sekarang ia bisa membuka butik sendiri di rumahnya.

lek iwon dan ikhitar membumikan batik

Tak terhitung sudah perjalanan keliling Indonesia yang dilakukan oleh Lek Iwon untuk memberikan pelatihan atau workshop membatik tulis ke berbagai kalangan yang tersebar di seantero negeri.

Dalam pelatihan itu, Lek Iwon juga berujar bahwa tidak selalu apa yang dilakukannya itu bermotif transaksional-material, terkadang juga sosial-transendental.

Semua itu dilakukan dengan niat tulus dan ikhlas untuk membumikan batik di Indonesia maupun dunia, sehingga batik sebagai warisan budaya dunia tidak hanya menjadi artefak simbolis semata, melainkan hidup dan tercermin dalam perilaku sehari-hari.

“Jika Anies (Baswedan) punya program Indonesia Mengajar, maka saya menggagas program Indonesia Membatik secara nasional, tegas Lek Iwon dengan senyum di bibirnya.”

 

Baca juga:

Manusia, Belenggu, dan Kebahagiaan Holistik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *