Article
Sejarah Gunung Tidar: Ketika Agama dan Budaya Saling Berdialog

Sejarah Gunung Tidar: Ketika Agama dan Budaya Saling Berdialog

Di penghujung bulan Agustus lalu, beberapa tim Gets Indonesia mengadakan perjalanan menuju salah satu situs bersejarah di bagian tengah Pulau Jawa. Terletak di tengah Kota Magelang, sejarah Gunung Tidar menyimpan cerita dan makna tersendiri dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Dengan ketinggian 503 meter di atas permukaan laut, gunung ini bisa ditempuh selama 15-30 menit dari lokasi parkiran kendaraan di bawahnya.

Masyarakat Jawa meyakini bahwa sejarah Gunung Tidar merupakan paku bumi yang menyeimbangkan Pulau Jawa. Konon, dahulu Pulau Jawa memiliki bentuk seperti perahu yang bergejolak dan dapat sewaktu-waktu terbawa arus laut.

Pulau itu awalnya dihuni oleh berbagai jenis jin yang sangat kuat, dan pusat kerajaannya terletak di Gunung Tidar. Penduduk di Pulau Jawa saat itu dikenal sakti serta memiliki ilmu kanuragan yang tinggi.

Terdapat banyak riwayat mengenai apa yang pernah terjadi di gunung tersebut. Secara historis, Gunung Tidar ialah tempat pertemuan antara Syaikh Subakir, pembawa risalah Islam ke Nusantara, dengan Eyang Semar, pemeluk agama lokal cum budayawan terkenal di Pulau Jawa.

sejarah gunung tidar

Dikisahkan oleh  bahwa Syaikh Subakir kemudian mengusir jin-jin yang mendiami daerah Pulau Jawa, khususnya daerah Gunung Tidar, dan memindahkannya ke Laut Selatan Jawa.

Selepas jin itu terusir, Eyang Semar lalu muncul dan mengajak bertarung pendatang dari Persia tersebut. Menyitir sebuah riwayat disebutkan bahwa pertarungan itu berlangsung selama 40 kali dan akhirnya berakhir seri.

Dialog pun akhirnya dimulai. Syaikh Subakir menjelaskan maksud kedatangannya untuk mensyiarkan agama Islam sebagai agama yang datang untuk menyempurnakan agama-agama yang pernah ada dan berkembang sebelumnya.

Mendengar hal itu, Eyang Semar yang juga dikenal sebagai Eyang Ismaya Jati menawarkan kesepakatan yang antara kedua belah pihak.

Beliau bersedia memberi izin kepada Syaikh Subakir untuk menyebarkan agama Islam dengan satu syarat utama, yakni agama tersebut tidak boleh menghapus atau menghilangkan unsur-unsur kebudayaan lokal yang telah menjadi tradisi turun-temurun para leluhurnya.

Syaikh Subakir menyetujui tawaran yang diberikan oleh Eyang Semar. Tongkat pun ditancapkan sebagai tanda diterimanya Islam di tanah Jawa. Tongkat itu saat ini dikenal dengan nama Kiai Sepanjang, serta dikebumikan di area Gunung Tidar.

sejarah gunung tidar

Selain itu, terdapat pula monumen pusar bumi yang diyakini sebagai titik pusat keseimbangan tanah Jawa, yang mana bila pusar itu dicabut maka akan berpengaruh terhadap stabilitas Pulau Jawa.

Bertemu Juru Kunci Gunung Tidar di Pusara Eyang Semar

Di area lokasi pemakaman Eyang Semar, tim Gets Indonesia bertemu dengan juru kunci kawasan Gunung Tidar yang bernama Bu Sutijah. Pembicaraan berlangsung secara hangat dan menarik.

Beliau juga mewedar beberapa makna di balik kata Eyang Semar, kisah pertemuan para wali dan raja di Gunung Tidar, dan kearifan budaya lokal yang menjadi warisan leluhur tanah Jawa.

“Eyang itu sebenarnya akronim dari Eling Sembahyang (mengingat shalat atau beribadah kepada Tuhan di setiap waktu), sementara Semar adalah singkatan dari Sira Eling Maring Allah lan Rasul (manusia yang ingat kepada Tuhan dan rasul utusan-Nya), jelas Bu Sutijah.”

Bu Sutijah juga memperingatkan kembali akan pentingnya kebudayaan sebagai aspek yang tidak boleh dikesampingkan begitu saja. Hal ini dikarenakan corak keagamaan yang marak berkembang hari-hari ini seolah menegasikan budaya sebagai penyokongnya.

sejarah gunung tidar

Identitas kebudayaan lokal tempat seseorang tumbuh dan berkembang seharusnya tidak boleh begitu saja dihilangkan hanya karena kedatangan sebuah model keberagamaan yang dibawa oleh pendatang dari luar.

Tentu akan lebih indah jika agama dan budaya itu saling berdialog, sehingga kemudian lahir corak keagamaan maupun kebudayaan baru yang lebih berwarna, kaya, dan tidak kehilangan makna serta jati diri utamanya.

 

Baca juga artikel lainnya:

Telusur Gunung Padang: Belajar Kesejatian, Merajut Peradaban Emas Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *